Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2022

Kapsul Waktu

Sepuluh tahun lalu, Dira memiliki sahabat yang amat sangat dekat. Zidan namanya. Mereka bersahabat sudah sangat lama, bahkan sejak mereka berusia 1 tahun. Ibu mereka juga merupakan 2 orang sahabat, sehingga rumah mereka saling berdekatan. Setiap pagi Dira dan Zidan berangkat sekolah bersama. Bahkan bisa disebut kemanapun Dira pergi, pasti ada Zidan di sana. Zidan sudah seperti saudara bagi Dira. Karena terlalu sering bersama, banyak orang yang mengira bahwa sebenarnya mereka adalah saudara.  Saat beranjak remaja, kedekatan mereka semakin erat. Walaupun sering bertengkar, namun itu tidak akan berlangsung lama. Teman-temannya sampai hafal, dimana ada Dira, pasti ada Zidan di sudut lain tempat itu. Banyak diantara teman-temannya yang mulai menanyakan, apakah benar Zidan hanya seorang teman bagi Dira. Benar saja, kedekatan ini lama kelamaan menumbuhkan perasaan Dira pada Zidan. Dira tidak mau merusak persahabatan ini, sehingga Dira memilih untuk tetap diam. Sebenarnya, berkali-kali Dir...

Lazuardi

Beberapa waktu lalu aku diterima bekerja di suatu perusahaan terkenal di kotaku. Hal ini membuatku harus pindah tempat tinggal, dan terpaksa meninggalkan adik kecilku. Namanya Ardi, dia adalah pria kecil yang baru-baru ini memasuki usia 5 tahun. Baru-baru ini pula, dokter menyatakan bahwa Ardi mengalami penyakit jantung. Namun, Ardi tetaplah anak yang lincah dan gesit.  Ardi tidak pernah mau jauh dariku. Bahkan ketika aku lembur kerja, Ardi selalu menungguku di ruang tamu. Ia selalu memintaku untuk membelikannya barang-barang berwarna biru. Entah mengapa, ia suka sekali dengan warna biru, terutama biru langit. Dia juga suka sesuatu yang berkilauan, seperti lampu-lampu kota ketika malam hari. Setiap hari libur, pasti Ardi mengajakku berbaring di halaman belakang rumah. Sekadar untuk menatap luasnya langit biru, hingga Ardi tertidur di antara rumput hijau dan lembutnya tiupan angin. Ardi tahu, aku akan pergi ke kota. Dia sangat ingin ikut denganku, namun aku tidak akan bisa menjagany...

Satu Teman Dua Sahabat Tiga Semburat

Sangat menyenangkan ketika aku hidup di kelilingi orang yang dapat berbagi kebahagiaan denganku. Apalagi, aku tidak perlu lagi malu-malu. Aku memiliki dua orang sabahat. Dua orang yang selalu ada dalam kebahagiaanku. Bahkan sesaknya napas karena tawa yang terlalu lama sangat sering kami alami. Ya walaupun kadang aku yang menjadi bahan tawaan, namun setidaknya kita tetap tertawa bersama. Aku bertemu mereka saat menduduki bangku sekolah menengah. Saat itu, kuingat aku sedang kebingungan mencari kelompok belajar. Untungnya, secara spontan mereka melihat ke arahku. Langsung saja aku berteman dengan mereka. Rina dan Jasmin. Mereka telah dekat sejak kecil, hal ini mudah ku tebak karena terlihat dari kesehariannya, cara mereka berpakaian dan sebutan naman mereka. Semenjak itu, kami berteman. Kemanapun aku pergi mereka selalu menemaniku, begitu pula aku. Segalanya sudah kita lalui, mulai dari belanja bersama, menginap bersama, ke salon bersama, apapun itu. Aku senang punya mereka, sungguh mere...

Bukan Kucing Biasa

Akhir-akhir ini aku menyadari, sepertinya aku kurang berbagi. Baik pada manusia ataupun makhluk hidup di sekitarku. Hal ini aku sadari semenjak datangnya bidadari tak bersayap yang mampu meluluhkan tawaku setiap hari. Bulunya hitam legam, raut wajahnya lucu sekali. Melihatnya tertidur sudah membuat hatiku meleleh karena begitu gemas. Bagi orang lain dia hanyalah kucing, namun bagiku dia sudah bagaikan adik kecilku sendiri.  Sejak kecil, dialah yang mendengar keluh-kesahku. Bahkan sebenarnya dia lebih tau banyak tentangku, karena setiap hari aku menghabiskan waktu bersamanya. Kukira hanya manusia yang berhati lembut. Namun tidak, dia menyadarkan ku bahwa siapapun juga memiliki hati yang baik, bahkan seekor kucing.  Hal ini aku pahami setelah hujan lebat di sore hari. Waktu itu, rumput-rumput masih menggenggam sisa air hujan. Kucingku mulai pergi untuk menghirup segarnya bau tanah. Aku hanya berdiam di kamar. Saat beberapa lama kucingku kembali, terdengar suara kucing lain di te...

Hoki

Sedari dulu Doni dikenal sebagai anak sekolahan yang nakal. Kerap berkata kasar, selalu suka keributan, dan tak kenal takut. Semua guru mengenalnya, apalagi guru BK yang sudah langganan bertemu Doni. Ada saja kelakuan Doni disetiap harinya. Mulai dari telat masuk sekolah, mengganggu adik kelas, mencoret-coret bangku, memecahkan kaca kelas hingga berkali-kali mematahkan kursi kelas. Namun, kelakuan tidak baik Doni ini tidak membuatnya dijauhi teman. Doni tetap memiliki teman di mana-mana. Pagi itu, Doni bangun terlalu pagi. Awalnya, dia ingin melanjutkan kembali tidur nyenyak nya, namun dia malah tetap terjaga hingga suara azan subuh berkumandang. Merdunya suara pak RT melantunkan azan membuat Doni tergerak hatinya untuk menjalankan perintah tuhan. Usai mandi, langsung dia menggelar sajadah, dilanjutnya dengan bersiap-siap menuju sekolah.  Saat memakai seragam, sakunya terasa agak berat. Wajahnya sudah sumringah, berharap sesuatu yang ada dipikirannya terwujud. Benar saja, selembar ...

Eko Selalu Oke

Dalam hidupnya, dia selalu senang membantu orang-orang. Eko adalah pria baik hati, yang rela membatu siapa saja yang ada di dekatnya. Tak heran, banyak sekali orang yang menganggapnya sebagai teman baik. Karena memang kenyataannya Eko adalah orang yang baik, amat sangat baik. Tidak pernah ia enggan membantu orang yang kesusahan, karena dia tau, tertimpa kesusahan adalah hal yang tidak menyenangkan. Pernah Eko meminjamkan uangnya kepada seorang teman yang terlanda hutang. Pernah pula Eko meminjamkan mobilnya untuk seorang teman yang ingin sekali merasakan menyetir mobil. Bahkan, Eko rela meminjamkan kamera faforitnya untuk seorang teman yang mengaku ingin berfoto dengan gaya yang bagus. Semua Eko lakukan dengan ikhlas dan tanpa mengharap imbalan. Semata-mata untuk membuat temannya senang. Sampai suatu ketika, Eko sangat ingin mendirikan sebuah toko miliknya sendiri. Eko mulai menabung untuk modal membuka tokonya. Belum sampai terkumpul banyak, Eko mendengar temannya mengalami kebangkrut...

Larut Malam

Beberapa waktu lalu, tugas sekolahku begitu menumpuk. Aku sedikit malas untuk mengerjakan tugas. Memang tugas adalah hal yang membosankan. Malam itu aku berniat menyelesaikanya, mungkin meminum sedikit kopi akan membantuku tetap terjaga. Aku memulai dengan memasak air, dan menyiapkan tugas apa saja yang akan kuselesaikan. Seperti biasa, ku kerjakan saja tugas-tugasku di kamar, karena di tempat lain tidak memiliki suasana senyaman kasur dan selimutku.  Pukul delapan malam aku memulai tugasku, kukerjakan satu-persatu dengan sangat teliti. Tidak ada yang terlewatkan satu soalpun. Dan ya, selesai satu namun masih ada yang lainnya. Aku kerjakan saja selama aku masih kuat. Beberapa dari tugasnya memang hanya tugas sepele, namun sangat banyak pertanyaan yang bercabang-cabang.  Makin malam, suara televisi di rumahku sudah tidak lagi terdengar. Ayah dan ibuku mematikan lampu tengah, tandanya mereka akan pergi tidur. Aku tidak terlalu memikirkan itu, karena sudah biasa aku terjaga saat ...

Yang Usai Harus Selesai

Malam kerap sekali terbayang, terhantui akan kesalahan apa yang pernah ku buat padamu. Pernahkah aku menyakitimu? Atau aku yang memang tak sependapat denganmu? Mengapa kita benar-benar harus selesai? Dan jajaran pertanyaan lain yang masih abu-abu untuk ku jawab sendiri. Memang apa permasalahan kita. Tiga tahun sudah aku lelah memikirkan, bagaimana bisa kita saling sepakat untuk meninggalkan disaat aku masih sering memikirkan bayang-bayangmu.  Sore itu aku kembali mengunjungi sekolah kita. Tempat pertama kaki kita bertemu. Masa itu kita memang masih remaja. Terlalu muda untuk memahami cinta, terlalu muda untuk memahami saling ada, dan terlalu muda untuk mengerti semuanya. Aku tidak menyesali semua itu, aku yakin. Semua hal-hal bodoh yang kita lalui, semua canda tawa dan rasa yang kita lakukan menjadi sebuah kenangan manis dewasa ini.  Aku masih mengingatmu. Dengan jelas di sore itu, ingatan tentangmu kembali saat aku duduk di bangku taman kesukaanmu. Mengingat indahnya helai ra...

Si Jentaka

Berawal dari pagi tadi, Hera yang bangun tidur pukul enam pagi. Sebenarnya ini hari yang normal, namun tidak bagi Hera. "Yaampun ini jam wekerku mati lagi? Masa beli jam mahal-mahal suaranya sengau begini sih ah", ucap Hera dengan cemberut. Hera yang sebenarnya hampir telat tetap memaksa untuk berangkat sekolah tepat waktu. Hera bergegas mandi, berlari ke kamar mandi dan berharap mandinya cepat selesai. Sepuluh menit sudah berlalu, makin panik lagi Hera karena saking cepatnya ia berlari menuju kamar mandi, lupa lah Hera mengambil handuk. Rasa kesal muncul untuk kedua kalinya dalam hati Hera. "Ma.., Hera minta tolong boleh?..., handuk ma..", teriak Hera dari kamar mandi, berharap mendapat bantuan dari Mamanya. Namun, bantuan tak kunjung datang. Rupanya mama Hera tidak mendengar suaranya. Terpaksa Hera memakai baju tidurnya sebagai handuk.  Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, Hera yang makin panik memutuskan untuk pergi sekolah tanpa memakai riasan wajahnya. Denga...

Rumah

Sedari dulu hidupnya cukup, bahkan amat sangat cukup. Tinggal di tengah kota dengan segelintir harta lengseran ayahnya, serta nikmatnya makanan yang selalu hangat tersedia di meja makan kapanpun ia merasa lapar. Hidup sebagai seorang anak satu satunya di keluarga, tentu saja semua keinginannya terpenuhi. Tinggal ucap saja apa yang ia perlukan, dalam hitungan jam saja sudah pasti terpenuhi. Irgi, seorang remaja penuh tanya dan rasa tengah mengalami rumitnya hidup. Tujuh belas tahun sudah ia hidup dengan kemewahan dunianya. Apapun bisa ia dapatkan. Uang jajan, gawai baru, bahkan mobil baru pun hanya sepele baginya. Tidak ada yang begitu sulit untuk ia dapatkan, karena hampir semua orang mengenalnya. Tak heran, ia seorang anak dari pengusaha tersukses dan terkenal di kota. Sampai-sampai sering kali ia menemukan seorang yang begitu hafal masa kecilnya, karena memang diusia balita ia selalu berada di penitipan anak. Irgi anak yang cenderung biasa saja, cerdas tapi juga terlalu malas. Bagaim...