Hoki

Sedari dulu Doni dikenal sebagai anak sekolahan yang nakal. Kerap berkata kasar, selalu suka keributan, dan tak kenal takut. Semua guru mengenalnya, apalagi guru BK yang sudah langganan bertemu Doni. Ada saja kelakuan Doni disetiap harinya. Mulai dari telat masuk sekolah, mengganggu adik kelas, mencoret-coret bangku, memecahkan kaca kelas hingga berkali-kali mematahkan kursi kelas. Namun, kelakuan tidak baik Doni ini tidak membuatnya dijauhi teman. Doni tetap memiliki teman di mana-mana.

Pagi itu, Doni bangun terlalu pagi. Awalnya, dia ingin melanjutkan kembali tidur nyenyak nya, namun dia malah tetap terjaga hingga suara azan subuh berkumandang. Merdunya suara pak RT melantunkan azan membuat Doni tergerak hatinya untuk menjalankan perintah tuhan. Usai mandi, langsung dia menggelar sajadah, dilanjutnya dengan bersiap-siap menuju sekolah. 

Saat memakai seragam, sakunya terasa agak berat. Wajahnya sudah sumringah, berharap sesuatu yang ada dipikirannya terwujud. Benar saja, selembar uang warna coklat yang agak lusuh dan tertekuk - tekuk menyumbang rasa bahagia di hati Doni pagi itu. Sisa uang saku kembalian gorengan kemarin sore masih terjaga dalam saku berlogo OSIS. 

Pukul enam kurang lima menit, Doni hendak berangkat menuju sekolah. Sepertinya ayah Doni sedang ada tambahan kerja, maka Doni harus berangkat sendiri pagi itu. Doni memutuskan untuk memesan ojek online, karena uang sakunya juga sedang bertambah. Pikirnya, sekali - kali lah mencoba naik ojek online. Saat membuka aplikasi, Doni kembali cengar-cengir. Ongkos menuju sekolahnya dua kali lipat lebih murah, saat itu Doni kebetulan memiliki potongan harga. Doni tidak perlu habis banyak uang saku pagi itu.

Sesampainya di sekolah, sepertinya masih terlalu pagi. Hanya para guru yang terlihat memarkirkan motor-motor mereka, dan ada pula yang masih melipat jaketnya. Dengan santai Doni berjalan memasuki gerbang sekolah. Baru kali ini ia merasakan suasana datang pagi, karena biasanya kalau tidak terlambat pasti mepet bel sekolah. Doni mencoba keliling sekolah dahulu, dia memilih rute memutar menuju kelasnya.

Saat melalui lorong dekat kamar mandi, Doni melihat sebuah kotak hitam dari kejauhan. Bergegaslah Doni memastikan benda apakah yang dia lihat itu. Saat didekati, sepertinya itu adalah dompet. Di dalamnya berisikan kartu tanda penduduk, surat pentin lainnya dan sejumlah uang. Doni sebenarnya panik, karena tidak tahu harus berbuat apa. Namun saat melihat nama dalam dompet itu, tertuliskan nama kepala sekolahnya. 

Doni segera menemui seorang yang namanya ada dalam dompet itu, pergilah dia menuju ruang kepala sekolah. Di sana memang ada sang pak kepala sekolah, yang rupanya tengah sibuk membuka berkas-berkas. 

"Permisi, pak.., eeh.. ini pak, dompet hehe", Doni yang agak gugup memberanikan diri bertemu dengan pak kepala sekolah, walaupun sebenarnya dia takut kepada kepala sekolah karena dia terlalu banyak memiliki kasus di sekolah. 

"Loh! Doni. Kok dompet saya ada di kamu?", ucap pak kepala sekolah dengan sedikit kaget. 

"Wah iya pak, hehe.. tadi di dekat itu pak, eeeh kamar mandi. Di itu pak, lorong lorong", ucap Doni dengan menggaruk-garuk kepalanya. Rasa gugup membuat akar rambut Doni bergetar-getar. Ditambah dengan suara pak kepala sekolah yang agak keras, hati Doni juga sedikit takut.

"Ooh, jatuh Don?, waduuuh makasih ya Doni. Ini ada SIMnya, ada KTP, ada STNK, ada kartu banyak. Aduh kalau hilang ya kacau ya Don!"

"Waduh hehe, iya pak kacau", ucap Doni yang masih saja gugup.

"Yasudah Don, saya harus tanda tangan banyak ini, kamu kembali ke kelas. Terimakasih ya Doni! Pinter kamu", dengan lantang pak kepala sekolah memuji Doni.

"Wih iya pak, mari pak", Doni segera putar balik dan berniat langsung menuju kelas saja. 

"Eh Don, Doni! Sini nak, ini dibawa", pak kepala sekolah yang sebenarnya sedang sibuk memanggil Doni kembali, kini di tangannya ada selembar berwarna merah dengan gambar senyuman indah presiden pertama Indonesia. Doni kembali dan malu-malu untuk menerima uang tersebut, namun akhirnya diambil juga oleh Doni.

Pelajaran pertama hari itu, Doni lupa bahwa ada tes. Doni yang semalam tidak belajar apa-apa hanya santai saja. Dia berencana akan mengawur saja, apapun itu asal dijawab. Walaupun masih berusaha mencari contekan, tetap saja waktu yang dimiliki Doni kurang. Membuatnya terpaksa untuk cap cip cup pada opsi alfabet yang tertulis di lembar soalnya.  Doni sudah biasa melakukan hal tersebut, makanya dia tidak takut apapun hasilnya. 

Sampai pada waktu istirahat, Doni dan teman-temannya pergi ke kantin. Nasi bakar adalah menu paling enak di sekolah Doni, karena uangnya banyak langsung saja Doni memesan nasi bakar. Dia juga membelikan teman-temannya sebagai bentuk terima kasih, karena tadi sudah memberi dia contekan. Sebenarnya, Doni ingin memesan es teh paling segar di kantin, namun kata penjual teh, semuanya sudah diborong oleh guru karena ada rapat. Yang tersisa hanyalah air putih dan teh kemasan. Doni yang sedikit kecewa akhirnya memilih air putih, karena harganya cenderung lebih murah.

Ketika jam sekolah berakhir, saat Doni dan temannya bersiap pulang, tak disangka pengumuman nilai tes dadakan juga sudah keluar. "Nilai terbesar kali ini akan mendapat hadiah dari saya, kali ini saya bangga, nilainya tidak terlalu jelek semua. Oke langsung saja ya anak-anak, yang pertama Fina, Zidan, Zafian, Risa, dan Doni. Doni ini keren!, keren sekali", ucap lantang guru Doni di depan kelas. Doni juga tidak percaya bahwa nilainya bagus. Senangnya lagi, Doni mendapat hadiah es teh yang dia dambakan sejak dari kantin tadi.

Langsung saja Doni menghajar es teh impiannya di depan kelas. Setelah es tehnya habis, Doni hendak langsung pulang dan menyampaikan pada ibunya bahwa nilai tes kali ini bagus. Saat Doni berjalan keluar gerbang sekolah, 5masih saja ada keberuntungan Doni yang berlanjut. Teman Doni yang tadinya dibelikan nasi bakar menawarkan tumpangan pada Doni. Doni tidak menolaknya, disamping itu memang dia adalah teman dekat Doni, Doni juga tidak perlu lagi mengeluarkan uang saku untuk pulang hari itu. Doni yakin ini adalah berkah dari tuhan, karena pagi tadi dia menjalankan Ibadah. Karena begitu senang, Doni janji pada dirinya sendiri agar lebih sering dan taat untuk beribadah, agar hidupnya selalu senang.


Komentar

Posting Komentar