Bukan Kucing Biasa

Akhir-akhir ini aku menyadari, sepertinya aku kurang berbagi. Baik pada manusia ataupun makhluk hidup di sekitarku. Hal ini aku sadari semenjak datangnya bidadari tak bersayap yang mampu meluluhkan tawaku setiap hari. Bulunya hitam legam, raut wajahnya lucu sekali. Melihatnya tertidur sudah membuat hatiku meleleh karena begitu gemas. Bagi orang lain dia hanyalah kucing, namun bagiku dia sudah bagaikan adik kecilku sendiri. 

Sejak kecil, dialah yang mendengar keluh-kesahku. Bahkan sebenarnya dia lebih tau banyak tentangku, karena setiap hari aku menghabiskan waktu bersamanya. Kukira hanya manusia yang berhati lembut. Namun tidak, dia menyadarkan ku bahwa siapapun juga memiliki hati yang baik, bahkan seekor kucing. 

Hal ini aku pahami setelah hujan lebat di sore hari. Waktu itu, rumput-rumput masih menggenggam sisa air hujan. Kucingku mulai pergi untuk menghirup segarnya bau tanah. Aku hanya berdiam di kamar. Saat beberapa lama kucingku kembali, terdengar suara kucing lain di teras rumah. Seketika aku bangkit dari hangatnya kasurku, kukira kucingku dalam bahaya.

Nyatanya, seekor bidadari kecil datang lagi. Kali ini, kucingku yang membawa kucing lain datang ke rumahku. Kucingku yang membawanya, karena dia terlihat mencoba untuk memberi tahuku. Masih begitu kecil, lucu dan kurus. Entah bagaimana cara dia membawanya ke rumahku, namun yang terpenting adalah bagaimana cara merawatnya agar kembali sehat. 

Dalam hati kecilku terbesit ungkapan, kucing saja dapat mengerti arti menolong sesama. Mengapa, aku selama ini belum bisa menolong manusia lain. Aku melihat ikatan antara mereka, begitu erat layaknya saudara. hanya dalam hitungan hari saja, mereka terlihat sangat saling menyayangi. 

Genap sudah satu minggu, aku melihat keadaan kucing kecil yang dibawa oleh kucingku semakin lemah. Entah sekejam apa siksaan dunia yang menimpanya, dia terlihat tetap kuat menjalani harinya. Namun kali ini tidak, dia sudah semakin kurus dan lemah. Bahkan paginya aku menemukan bekas muntah cacing putih di bawah kolong kasurku. Aku sadar, waktunya tak lama lagi.

Setidaknya, dia telah merasakan kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan di dunia. Berkat kucingku, dia dapat merasakan tinggal bersamaku. Berbagi kasih sayang memang semudah itu. Cukup kita lakukan dengan ikhlas dan tulus. Walaupun sederhana, namun tetap saja membuat hati bahagia.

Siang harinya, aku menemukan bidadari kecil yang dibawa kucingku tergeletak di halaman belakang. Ia sudah tidak bergerak, dan aku tidak melihat pula kembang kempis perut mungilnya. Tuhan terlalu sedih melihat kejamnya dunia menimpa si kecil yang kurang beruntung ini. Aku yang belum lama mengenalnya merasa terpukul. Rasa sakit yang cukup menyayat hati terasa ketika ditinggal pergi oleh sesuatu yang kita sayangi.

Sampai sekarang, aku bersyukur tuhan telah menunjukkan cara yang benar untuk berbagi. Cara paling mudah untuk membahagiakan sesama makhluk hidup. Hanya perlu menyayangi sepenuh hati dan niat yang baik untuk melakukan sesuatu. Meski pun hanya hal yang terkesan sepele, namun akan sangat berarti bagi yang lain.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hoki

Satu Teman Dua Sahabat Tiga Semburat