Eko Selalu Oke
Dalam hidupnya, dia selalu senang membantu orang-orang. Eko adalah pria baik hati, yang rela membatu siapa saja yang ada di dekatnya. Tak heran, banyak sekali orang yang menganggapnya sebagai teman baik. Karena memang kenyataannya Eko adalah orang yang baik, amat sangat baik. Tidak pernah ia enggan membantu orang yang kesusahan, karena dia tau, tertimpa kesusahan adalah hal yang tidak menyenangkan.
Pernah Eko meminjamkan uangnya kepada seorang teman yang terlanda hutang. Pernah pula Eko meminjamkan mobilnya untuk seorang teman yang ingin sekali merasakan menyetir mobil. Bahkan, Eko rela meminjamkan kamera faforitnya untuk seorang teman yang mengaku ingin berfoto dengan gaya yang bagus. Semua Eko lakukan dengan ikhlas dan tanpa mengharap imbalan. Semata-mata untuk membuat temannya senang.
Sampai suatu ketika, Eko sangat ingin mendirikan sebuah toko miliknya sendiri. Eko mulai menabung untuk modal membuka tokonya. Belum sampai terkumpul banyak, Eko mendengar temannya mengalami kebangkrutan. Temannya meminta Eko agar meminjamkan uang padanya. Tak segan-segan, Eko meminjamkan uang yang ia miliki pada temannya. Mendengar Eko sebenarnya akan membuka sebuah toko, temannya mulai menawarkan diri menjadi pembantunya.
Eko yang sebenarnya ragu untuk mendirikan toko sendirian sangat setuju dengan ide temannya. Selang beberapa bulan, impian Eko terwujud. Eko berhasil meramaikan toko sepatunya dengan menjual sepatu sepatu dari pemasok terkenal. Bisnisnya berjalan lancar kala itu, karena masih terbilang baru dan belum menjumpai kendala-kendala besar.
Hampir setengah tahun berjalan, teman Eko meminta agar ia dinaikkan gajinya. Padahal menurut Eko, gaji temannya ini sudah terbilang cukup. Namun temannya memaksa sehingga Eko tak sampai hati. Tidak hanya menaikkan gaji, Eko juga diminta untuk menunjukkan kode Bank tempat penyimpanan uang modal toko sepatu Eko ini. Karena percaya pada temannya, Eko memberikan saja kode Bank pada temannya.
Lama kelamaan, kinerja teman Eko semakin memburuk. Ia semakin sering bolos kerja dan hanya merepotkan Eko. Eko sangat sabar menghadapi hal ini, Eko merasa mungkin memang temannya butuh istirahat. Eko memberi kesempatan cuti pada temannya, ia tidak mau temannya stres karena pekerjaan. Di lain sisi, toko Eko juga menjadi sepi pengunjung karena memang belum ada pembaruan di toko yang Eko miliki. Eko mulai memeriksa segala keperluan toko, dan akan memperbarui toko agar kembali ramai.
Begitu terkejutnya Eko melihat uang dalam rekeningnya ludes. Hilang entah kemana dan untuk apa. Eko mencoba menghubungi temannya, namun tidak disangka-sangka nomor temannya itu sudah tidak aktif lagi. Eko berusaha menghubungi nomor kerabat temannya, dan berharap ada yang mengetahui dimana keberadaan temannya itu. Namun Eko tak kunjung menemukan temannya. Eko berusaha mengerti, mungkin temannya tidak mau diganggu saat liburan.
Hari berganti, saatnya Eko mulai bekerja kembali. Hal yang mengejutkan Eko pagi itu adalah adanya tanda yang menunjukkan bahwa toko Eko sudah terjual. Eko yang bingung tidak tau harus apa hanya bisa berpikir. Apa maksud dari semua ini. Tak lama ada seorang berbaju rapi mendatangi Eko. Orang tersebut menanyakan apa yang akan Eko lakukan disini. Eko menjelaskan bahwa ini adalah toko miliknya, ia akan memulai bekerja lagi hari ini. Sang orang berpakaian rapi ini terkejut. Ia menjelaskan pada Eko bahwa ia telah membeli bangunan ini kemarin malam. Semua sudah sah dan ditanda tangani. Orang itu mengaku bahwa ia ditawari langsung oleh pemilik bangunan.
Eko yang bingung tidak paham mengenai pembicaraan orang tersebut, pasalnya Eko lah yang memiliki toko ini. Eko meminta bukti pembelian tokonya dan penjelasan ulang agar Eko lebih paham. Ternyata selama ini temannya lah dalang dari kekacauan ini. Secara diam-diam teman Eko menjual toko dan isinya. Terlihat secara jelas bahwa tanda tangan itu adalah tanda tangan milik temannya. Eko hanya bisa menghela nafas dan menahan amarah dalam dadanya.
Eko kembali pulang dam berusaha menenangkan diri. Eko teringat bahwa tidak ada uang juga di dalam akun Bank nya. Eko mencoba memeriksa kemana uang itu pergi, dan benar saja. Uang yang selama ini Eko kumpulkan dibawa kabur oleh temannya. Eko hampa dan tidak tahu harus bagaimana hanya duduk terdiam di rumah. Eko menyesali perbuatannya karena Eko terlalu percaya pada orang lain. Kerugian yang amat besar ini menjadi pelajaran bagi Eko untuk tidak menjadi orang sebaik kemarin. Eko menjadi orang yang sedikit tertutup dan mulai berusaha untuk memilih dalam menolong orang.
masuk pak eko
BalasHapusmasok
Hapusoke lahhh
BalasHapusokehh
Hapuswaaah
BalasHapuswaah
HapusBagus mbak semangat untuk kedepan nya...
BalasHapusMakasiiiiiiii
Hapusteman Eko gapunya akhlak!!
BalasHapus#kasiah eko
HapusTerslentem
BalasHapus# justice for eko
HapusBgus
BalasHapusMantap!
HapusCeritanya bagus, yaa intinya jangan mudah percaya kepada orang lain, meskipun orang itu teman dekat, tapi kamu harus menjaga privasi yang memang tidak ada orang yang tau itu.
BalasHapusbenar sekali, waspadalah, waspadalah!
Hapus