Kapsul Waktu
Sepuluh tahun lalu, Dira memiliki sahabat yang amat sangat dekat. Zidan namanya. Mereka bersahabat sudah sangat lama, bahkan sejak mereka berusia 1 tahun. Ibu mereka juga merupakan 2 orang sahabat, sehingga rumah mereka saling berdekatan. Setiap pagi Dira dan Zidan berangkat sekolah bersama. Bahkan bisa disebut kemanapun Dira pergi, pasti ada Zidan di sana. Zidan sudah seperti saudara bagi Dira. Karena terlalu sering bersama, banyak orang yang mengira bahwa sebenarnya mereka adalah saudara.
Saat beranjak remaja, kedekatan mereka semakin erat. Walaupun sering bertengkar, namun itu tidak akan berlangsung lama. Teman-temannya sampai hafal, dimana ada Dira, pasti ada Zidan di sudut lain tempat itu. Banyak diantara teman-temannya yang mulai menanyakan, apakah benar Zidan hanya seorang teman bagi Dira. Benar saja, kedekatan ini lama kelamaan menumbuhkan perasaan Dira pada Zidan. Dira tidak mau merusak persahabatan ini, sehingga Dira memilih untuk tetap diam.
Sebenarnya, berkali-kali Dira berusaha menunjukkan perasaanya kepada Zidan. Namun Zidan tidak pernah menggubrisnya. Dira yang bingung hanya memilih tidak memutuskan apa-apa, dari pada nantinya akan merusak hubungan mereka. Namun, berbagai cara tetap dilakukan Dira, supaya Zidan tahu perasaan Dira padanya. Pastinya, cara yang dilakukan Dira tidak secara terang-terangan.
Suatu malam, Zidan sedang bersantai di rumah Dira. Seperti biasa, mereka membicarakan tentang teman, sekolah, dan juga kehidupan mereka. Dira tiba-tiba terpikirkan, bagaimana jika Dira tidak akan pernah mengungkapkan perasaannya pada Zidan saat ini, namun nanti ketika aku sudah dewasa dan benar-benar bisa memiliki hati Zidan. Dira meminta Zidan untuk menuliskan semua yang Zidan pikirkan tentang Dira, dan Dira akan menuliskan semua yang Dira pikirkan tentang Zidan. Dira juga menjelaskan tentang kapsul waktu, yang nantinya tulisan ini akan dibuka dalam waktu tertentu bersama-sama. Zidan mau-mau saja, karena itu permintaan Dira.
Selang waktu berjalan, Dira sebenarnya sangat ingin segera mengetahui tulisan Zidan. Berkali-kali Dira ingin membuka kapsul waktunya, namun sebenarnya Dira sendiri tidak siap. Hingga akhirnya, Dira terus menerus membatalkan niatnya itu. Zidan juga tampaknya lupa dengan kapsul waktu itu, karena Zidan tidak pernah lagi membicarakan tentang kapsul waktu. Dira menjadi semakin sensitif terhadap Zidan, Zidan yang merasakan perubahan pada Dira mulai membuat pertemanan mereka semakin terguncang. Mereka menjadi lebih sering bertengkar, namun tidak seperti dulu lagi. Untuk kembali berteman, mereka membutuhkan waktu yang lama.
Karena perdebatan yang begitu besar, Zidan menjadi enggan bertemu dengan Dira. Dira yang tidak tahu ada apa dengan dirinya juga memilih untuk tidak ingin bertemu dengan Zidan. Dira mendapat kabar dari ibunya jika Zidan akan pindah ke luar kota bersama ayah ibunya. Zidan tidak akan lagi tinggal di dekat rumahnya. Hal ini cukup membuat Dira takut akan kehilangan Zidan. Dira mencoba menghubungi Zidan, namun Zidan tak kunjung membalas pesannya. Rupanya, Zidan menutup semua akses untuk berkabar dengan Dira.
Beberapa tahun berlalu, Dira masih saja memikirkan Zidan. Padahal, sudah kama sekali Dira tidak mendapat kabar apa-apa tentang Zidan. Paginya, ibu Dira memberikan sebuah surat. Surat tebal yang berisi undangan yang ditujukan untuk keluarga Dira. Undangan ini ternyata bukanlah undangan yang baik bagi Dira, karena berisi tentang kabar pernikahan Zidan. Hanya dengan membaca nama Zidan dengan gadis lain sangat cukup untuk menghancur leburkan hati Dira. Dira yang tidak dapat menahan kesedihannya berlari menuju kamar. Dira tidak percaya bahwa Zidan akan meninggalkannya. Dira tidak mau mendatangi pernikahan Zidan, karena sudah pasti Dira akan sangat sakit hati.
Dira teringat bahwa dia dan Zidan pernah membuat kapsul waktu. Setelah cukup kuat untuk bangkit dari kesedihan, Dira mulai berusaha membuka kapsul waktu mereka.
"Dira Dira yang cantik. Aku belum tahu, apa aku benar bisa membuka kapsul waktu ini denganmu. Sudahlah. Dira, usahamu untuk menyampaikan perasaan itu sia-sia. Aku sudah tau semuanya. Aku paling tahu, kamu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dariku. Dira.., aku juga menyayangimu. Mungkin, ketika kita membaca ini, kita sudah bahagia bersama ya? Semoga saja. Sudahlah, sisanya akan ku sampaikan langsung. Hahaha"
Dira semakin sedih, mengetahui bahwa selama ini Zidan sangat memahaminya. Zidan mengetahui bahwa sebenarnya Dira menyukainya. Namun, karena perubahan sikap Dira, Zidan tidak lagi bisa menghargainya. Dira hanya bisa menyesal mengapa dahulu tidak Dira katakan saja perasaannya pada Zidan. Semuanya sudah terlambat, dan rasanya tidak mungkin bagi Dira untuk bertemu kembali bersama Zidan. Dira hanya bisa berharap, nanti akan bertemu Zidan kembali dengan cara yang terbaik. Dan untuk saat ini, Dira hanya bisa menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa lagi memiliki hati Zidan.
yah hatinya terpotek de,sabarr ya Diraa
BalasHapuskalo punya rasa jan dipendem
HapusKerenn
BalasHapussiap
HapusKece kece
BalasHapussiap
HapusSuka sama ceritanya👍
BalasHapusmakasih👍
HapusMaka dari itu dimohon untuk kalian jangan gengsi, karena kalau kalian ngga mengungkapkan sama sekali yaudah hilang entah sampai kapan
BalasHapusstop gengsi, start turunkan ekspektasi
HapusMantapppp banget kak👍👍👍
BalasHapusmakasi kakkk👍👍👍
BalasHapusmantap🔥🔥🔥🔥🔥
BalasHapusIhiyyy mantap🔥
BalasHapus