Rumah

Sedari dulu hidupnya cukup, bahkan amat sangat cukup. Tinggal di tengah kota dengan segelintir harta lengseran ayahnya, serta nikmatnya makanan yang selalu hangat tersedia di meja makan kapanpun ia merasa lapar. Hidup sebagai seorang anak satu satunya di keluarga, tentu saja semua keinginannya terpenuhi. Tinggal ucap saja apa yang ia perlukan, dalam hitungan jam saja sudah pasti terpenuhi. Irgi, seorang remaja penuh tanya dan rasa tengah mengalami rumitnya hidup.

Tujuh belas tahun sudah ia hidup dengan kemewahan dunianya. Apapun bisa ia dapatkan. Uang jajan, gawai baru, bahkan mobil baru pun hanya sepele baginya. Tidak ada yang begitu sulit untuk ia dapatkan, karena hampir semua orang mengenalnya. Tak heran, ia seorang anak dari pengusaha tersukses dan terkenal di kota. Sampai-sampai sering kali ia menemukan seorang yang begitu hafal masa kecilnya, karena memang diusia balita ia selalu berada di penitipan anak.

Irgi anak yang cenderung biasa saja, cerdas tapi juga terlalu malas. Bagaimana tidak malas, 10 tahun sudah ia menimba ilmu di istana megahnya. Seorang guru datang setiap pagi, dan pulang ketika siang hari. Usai belajar, ia habiskan saja waktunya dengan bermain gawai. Dunianya terasa begitu sempit, berputar terlalu cepat, dan membosankan. Semakin berganti usianya, semakin pusing pula kepalanya.

Dalam malamnya terpikirkan apa yang salah, apa yang kurang. Bukankah segalanya telah ia miliki. Bukankah apa yang ia inginkan sudah terpenuhi. Hari-harinya berjalan sepi. Apa yang salah. Ditengah sunyinya malam, ramai isi kepalanya. Tak jauh berbeda dengan sayatan rasa dalam dada, sayang selalu menggila tiap kali ia tidak bisa menjawab isi kepalanya. 

Rasanya ia takkan pernah mengerti, karena tak seorangpun dapat menasehati. Rasanya mustahil untuk berbincang dengan ayah. Berangkat pagi sekali, dan akan pulang ketika ia tertidur. Ingin bercengkrama dengan ibu, namun sudah bertahun-tahun lalu ibunya pergi. Bukan mati, hanya pergi dan rupanya tak akan pulang lagi. Pelarian malam harinya hanyalah pada cermin. Dimana ia bisa menatap, memandangi gagah tubuhnya.

Pagi hari yang biasa saja kembali menyapa Irgi. Tak lagi ada yang membuatnya tersenyum. Kosong, bahkan tidak ada lagi secercah senyum dalam indahnya wajah Irgi. Seperti biasa, pukul tujuh pagi gurunya sudah datang. Irgi sama sekali tidak bersemangat hari itu, berkata lah ia pada gurunya bahwa ia bosan melakukan hal ini. "Gi, ada apa?". Ucap seorang pria yang masih terlihat muda, yang biasa Irgi sebut sebagai guru. Pak Seno, orang yang pertama kali ia dengar pagi itu. Orang pertama kali dalam sekian lama waktu yang menanyakan keadaan Irgi. 

"Pak, saya bosan. Saya ingin yang lain pak, bukan seperti ini", ucap Irgi dengan sedikit rasa aneh dalam hatinya. "Gi, kamu lelah. Itu mukanya kusut. Irgi tidur terlalu malam?", tanya pak Seno sembari mengusap kepalanya. Dalam beberapa detik, ingin Irgi meneteskan air dari matanya. Belum pernah ia merasakan adanya percakapan semacam ini. Semakin ia tahan, semakin berat yang ia rasakan. Ia mencoba untuk bercerita, malah yang tersampaikan hanya kata yang terbata-bata. "Gi, ada apa? Saya akan membantu, coba Irgi jelaskan pada saya. Santai Gi, saya di sini sampai nanti", ucap pak Seno berusaha menenangkan Irgi yang rupanya mulai tidak kuat menahan tangis.

"Iya, pak." Ucap Irgi yang berusaha tenang dan menguatkan diri. Pak Seno dengan mudahnya memahami raut wajah Irgi. Irgi lelah, Irgi tidak baik-baik saja. Pak Seno sadar, Irgi selalu sendiri. Sedari kecil tak pernah sekalipun ada teman Irgi yang bermain kerumahnya. Pak Seno yang semakin tidak tega melihat Irgi mulai terpaku, melihat Irgi benar-benar meneteskan air mata di pipinya. "Pak, hanya pak Seno yang paling sering berbicara dengan saya. Mungkin kali ini saya bisa bertanya lebih banyak pada bapak. Ada apa dengan saya pak? Kenapa rumah ini terasa begitu membosankan? Bapak tiap hari datang kemari, apa bapak tidak bosan? Pak Seno pernah bertemu dengan ayah saya? Apa pak Seno sering bercerita pada ibu pak Seno? Pak Seno, pak.., saya ingin pak.. saya ingin.."

Terlalu banyak yang Irgi rasakan, hingga tak mampu lagi ia bertanya. Kehidupan megah nan mewah yang selama ini ia rasakan begitu tidak berarti baginya. Rumah yang indah itu, tak lagi bisa ia sebut rumah. "Gi, maaf bapak tidak bisa menemani kamu setiap hari. Saya hanya datang dan memenuhi tugas saya sebagai gurumu. Hari ini tidak usah belajar. Irgi saya temani, ya? Sekarang apa yang biasa Irgi lakukan setelah belajar?", ucap pak Seno yang berusaha menghibur Irgi. Irgi tidak tahan lagi dengan rasa yang ada dalam benaknya. Rasa yang selama ini menghantuinya. Rasa yang selalu ada namun tak pernah ia pahami apa maknanya. 

Secepat angin, pelukan Irgi menyambar pak Seno. Tangisannya tak lagi bisa dibendung. Irgi hanya mau menangis saat itu. Bercerita lah Irgi pada pak Seno tentang semua rasa yang ia cari, tentang semua rasa yang tak pernah ia alami. Hari itu diisi dengan indahnya senyum Irgi setelah terungkap isi kepalanya. Hari kembali terasa hangat, dan bercahaya. Pelangi dan bunga-bunga dalam hati Irgi kembali bermunculan. Cukup satu hari itu Irgi merasa bahagia berkat hadirnya pak Seno. Padahal, pak Seno hanya menemani Irgi. Sekadar bercerita dan mencoba hal baru di sekitar rumah Irgi. Namun Irgi terlihat begitu bahagia, sangat bahagia. 

Hati pak Seno cukup tersayat. Betapa sedihnya hidup sebagai Irgi, anak remaja yang tidak menemukan hangatnya keluarga. Remaja yang jauh dari rasa bahagia sesungguhnya. Di tengah-tengah istirahat pak Seno berkata, "Gi, pergi dan carilah dirimu. Tidak usah pikirkan yang lain, kamu punya segalanya. Carilah orang-orang yang bisa membuatmu senang. Rumahmu besar, mewah, megah dan semua yang kau inginkan ada. Namun kamu tidak punya rumah untuk berpulang. Tempat untuk melepas lelah dan segala kesedihanmu. Carilah Gi, waktumu masih panjang." ucap pak Seno pada Irgi. 

Seiring waktu berjalan, Irgi mulai mencoba mengikuti ucapan pak Seno. Irgi mulai berani, mencari apa yang seharusnya ia miliki. Walau memakan waktu yang tak sebentar, perlahan mulai Irgi mengenal dunia luar yang akhirnya lebih bisa menerima keadaan Irgi. Bercampur dengan orang-orang yang mampu memaklumi beratnya hidup Irgi. Orang-orang yang mampu menerima cerita Irgi. Orang-orang yang lebih bisa Irgi sebut sebagai rumah, yaitu tempat dimana Irgi dapat melepas lelah dan bercerita tentang kerasnya hari.

Komentar

  1. Ceritanya sangat memotivasi sekali

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. karyanya kerenn banget,sampai sedih membacanya 😥

    BalasHapus
  4. Semangat Priscaaaa, semoga lancar upraknyaaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hoki

Satu Teman Dua Sahabat Tiga Semburat