Satu Teman Dua Sahabat Tiga Semburat

Sangat menyenangkan ketika aku hidup di kelilingi orang yang dapat berbagi kebahagiaan denganku. Apalagi, aku tidak perlu lagi malu-malu. Aku memiliki dua orang sabahat. Dua orang yang selalu ada dalam kebahagiaanku. Bahkan sesaknya napas karena tawa yang terlalu lama sangat sering kami alami. Ya walaupun kadang aku yang menjadi bahan tawaan, namun setidaknya kita tetap tertawa bersama.

Aku bertemu mereka saat menduduki bangku sekolah menengah. Saat itu, kuingat aku sedang kebingungan mencari kelompok belajar. Untungnya, secara spontan mereka melihat ke arahku. Langsung saja aku berteman dengan mereka. Rina dan Jasmin. Mereka telah dekat sejak kecil, hal ini mudah ku tebak karena terlihat dari kesehariannya, cara mereka berpakaian dan sebutan naman mereka.

Semenjak itu, kami berteman. Kemanapun aku pergi mereka selalu menemaniku, begitu pula aku. Segalanya sudah kita lalui, mulai dari belanja bersama, menginap bersama, ke salon bersama, apapun itu. Aku senang punya mereka, sungguh mereka sangat baik padaku. Semuanya tidak pernah membosankan, selama aku selalu bersama mereka. 

Sampai suatu hari, aku mengatakan pada mereka bahwa aku menyukai seorang laki-laki, teman sebrang kelasku. Mereka terlihat senang, sampai-sampai sangat mendukungku. Mereka membantuku berkenalan, mencarikan nomor, hingga bertanya kepada teman yang lainnya. Aku merasa malu, namun senang juga. Teman-temanku begitu mendukungku untuk berkenalan dengan laki-laki itu.

Setelah aku memberitahukan tentang aku menyukai seorang laki-laki, kedua temanku mulai jarang berbicara padaku. Mereka lebih sering mengobrol berdua, dengan topik-topik yang bahkan aku tidak tahu itu. Yang aku dengar, mereka sering membicarakan tentang sebuah tempat, kejadian dan hal-hal lainnya. Ketika aku mulai memberanikan diri untuk bertanya, mereka hanya mengelak dan mengalihkan topik pembicaraan.

Makin lama, aku juga makin tidak lagi dipedulikan oleh mereka. Bahkan sekadar pergi ke kantin pun mereka tidak lagi mengajakku. Mungkin mereka hanya lupa, sehingga aku harus inisiatif menyusul mereka ke kantin. Aneh sekali, ketika aku melihat mereka duduk bersama laki-laki yang ku ceritakan. Aku berpikir mereka pasti tengah mencarikan informasi tentang laki-laki itu, nanti di kelas mereka akan menceritakannya padaku. 

Setelah mereka kembali ke kelas, aku mencoba menanyakan informasi yang aku tunggu. Namun begitu sakit hatiku mendengar bahwa mereka mengaku tidak tahu apa-apa. Mereka hanya duduk bersama di kantin. Padahal yang ku lihat, mereka sangat dekat. Semenjak kejadian ini, kedua temanku tidak pernah lagi berkumpul denganku. Mereka hanya akan bertemu denganku ketika ada tugas berkelompok, seperti dulu.

Esoknya aku melihat, Rina pulang bersama laki-laki yang aku sukai. Aku juga melihat Jasmin, dia terlihat melambaikan tangan pada Rina. Langsung saja aku menemui Jasmin, menanyakan bagaimana bisa Rina pulang bersama laki-laki itu. Jasmin terlihat tidak suka dengan kehadiranku. Jasmin rupanya sedang menutupi sesuatu, namun aku memaksanya untuk membuka mulut. Mungkin karena terpaksa, Jasmin akhirnya mengatakan bahwa Rina sudah dekat dengan laki-laki itu, tepat sesudah aku bercerita kepada mereka tentangnya. Rina membenciku, karena telah menyukai orang yang sama. 

Setelah aku mendengar jelas ucapan Jasmin, hatiku hampa dan kosong. Rasanya aku tidak mengerti, dan bagaimana bisa aku mengerti jika tidak ada satupun dari mereka yang bercerita padaku. Semenjak hari itu, tidak pernah lagi aku berbicara dengan Jasmin dan Rina. Mereka juga terlihat tidak peduli dengan keberadaanku. Lagi pula, mereka sangat sering bepergian bersama. Rupanya, aku tidak lagi menjadi sahabat mereka. Sedari awal, aku hanya merasakan suka dengan mereka, namun tidak dengan duka ku. 

Sekarang, aku lebih sering menyendiri. Tidak mudah lagi bagiku untuk mempercayai orang seperti saat aku bersama mereka. Semua suka dan duka ku akan ku simpan sendiri, akan ku bagi dengan orang yang suatu saat memang dapat ku percayai. Akan ku jadikan mereka sebagai pelajaran bagiku, agar nantinya aku dapat memilih teman yang memang baik untukku. Bukan teman yang memasang topeng berwajah baik di depanku, namun sebenarnya busuk di belakangku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hoki