Si Jentaka

Berawal dari pagi tadi, Hera yang bangun tidur pukul enam pagi. Sebenarnya ini hari yang normal, namun tidak bagi Hera. "Yaampun ini jam wekerku mati lagi? Masa beli jam mahal-mahal suaranya sengau begini sih ah", ucap Hera dengan cemberut. Hera yang sebenarnya hampir telat tetap memaksa untuk berangkat sekolah tepat waktu. Hera bergegas mandi, berlari ke kamar mandi dan berharap mandinya cepat selesai.

Sepuluh menit sudah berlalu, makin panik lagi Hera karena saking cepatnya ia berlari menuju kamar mandi, lupa lah Hera mengambil handuk. Rasa kesal muncul untuk kedua kalinya dalam hati Hera. "Ma.., Hera minta tolong boleh?..., handuk ma..", teriak Hera dari kamar mandi, berharap mendapat bantuan dari Mamanya. Namun, bantuan tak kunjung datang. Rupanya mama Hera tidak mendengar suaranya. Terpaksa Hera memakai baju tidurnya sebagai handuk. 

Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, Hera yang makin panik memutuskan untuk pergi sekolah tanpa memakai riasan wajahnya. Dengan muka yang sedikit belang dan seragam yang terkesan rapi namun tidak sempurna, Hera dengan bangganya memasuki gerbang sekolah sebelum bel berdering. "Eh eh eh non, tunggu, sini dulu!", ucap pak Asep, satpam yang bertugas pagi itu. "Lah ada apa pak? tumben bapak manggil saya?", tanya Hera kebingungan.

"Itu non, kaos kakinya kenapa bervariasi ya hahaha, udah mirip sama itu, zebra cross", ucap pak Asep sambil menertawai Hera. "Wah bapak jangan aneh-aneh ya pak, masa kaos kaki mirip zebra cross", saut Hera yang tidak sependapat dengan ucapan pak Asep. Saat Hera melihat kakinya, suara tawa pak Asep makin keras. Hera memakai kaos kaki belang zebra nya di kaki sebelah kiri, dan kaos kaki putih di kaki sebelah kanan. Hera pun menjadi pusat perhatian, layaknya selebriti yang baru datang dalam sebuah penghargaan bergengsi. Semua orang melihat Hera akibat tawa pak Asep yang sangat menggelegar.

Dalam perasaan gugup dan malu, di antara banyak orang berseragam putih abu-abu, sekelibat Hera melihat teman sekelasnya. Tak tanggung-tanggung tanpa rasa ragu, Hera menyaut tangan temannya. "Apaan sih pak Asep, bikin malu banget pagi-pagi... aduh malu banget tau diliatin satu sekolah, gimana ga malu coba, eh.." Rasa malu Hera bertambah lagi karena semua keluhan yang ia ucapkan dengan energi ekstra terucap sia-sia. Benar yang ia lihat adalah teman sekelasnya, namun yang Hera gandeng adalah anak di depan temannya.

"Yaampun Her kamu ngapain hahahahah, maaf ya dek, maaf temen kakak lagi stres", ledek teman Hera sambil mengambil tangan Hera. Sepanjang jalan menuju kelas teman Hera tak henti-hentinya menertawai Hera karena tingkah aneh yang ia lihat di depannya. Hera yang kesal hanya berniat untuk masuk kelas dan duduk tenang di bangkunya. "Malu banget tau, ih dari tadi pagi aneh banget deh. Hari ini aneh banget. Aku benci hari ini ih kesel", gumam Hera sembari duduk di bangkunya.

"Aduh Hera Hera..., kamu kenapa sih? kalau cape ya istirahat dong", celetuk teman sebangku Hera. 

"Gatau deh, pagi-pagi ada aja yang bikin kesel",

"Kamu habis kejatuhan cicak ya? sial mulu siih.., pasti sialnya dari bangun tidur hahahha..."

"Yee cicak-cicak, gak percaya mitos cicak", ucap Hera sambil memalingkan muka dari temannya. 

Selama pelajaran berlangsung, Hera terpikirkan perkataan temannya. Ia mengingat-ingat apalah kemarin hari ia sempat kejatuhan cicak atau tidak. Pikiran tentang mitos cicak yang menghantui otak Hera membuatnya tidak fokus dalam pelajaran. Hingga akhir pelajaran pun Hera masih tidak bisa lepas dari mitos cicak. Sebenarnya Hera tidak mau percaya, namun ia memang mengalami sial semenjak bangun tidur.

Sepulang sekolah, Hera memesan ojek online seperti biasa. Ketika ada yang datang, langsung saja Hera naik. Dalam perjalanan, Hera mencoba bertanya kepada pak ojek. "Pak, pak, bapak percaya tentang mitos cicak?" tanya Hera. "Waduh neng, saya mah percaya. Katanya ya neng, sial tujuh hari!", jelas tukang ojek pada Hera. "Waduh bapak, cara ngilanginnya gimana?", tanya Hera yang panik mendengar ucapan pak ojek.

" Washzhs neng, seweshshhsh. Kalau laszszzshahs, jadi ya jawzsszsh", suara pak ojek berbaur dengan kerasnya hantaman angin jalan raya, Hera berusaha memahami namun ia tidak paham. Hera berusaha bertanya berkali-kali namun suara pak ojek tetap tidak jelas. Lama kelamaan, Hera tersadar bahwa ini bukan jalur menuju rumahnya. Hera berteriak pada pak ojek agar berhenti, karena merasa sudah jauh dari rumahnya. "Lah neng, ini alamatnya bener toh di daerah sini?", ucap pak ojek yang kebingungan. 

"Lah rumah saya ke arah selatan pak, ini udah ke barat belok ke timur lagi. Bapak gimana sih baca map nya", protes Hera pada pak ojek. "Lah neng ini bener, dikit lagi belok kiri. Eh, apa emang salah ya neng?" pak ojek mulai kebingungan. "Lah bapak yang nyetir pak, saya ngikut di motor bapak" saut Hera. "Neng namanya siapa?", tanya pak ojek. "Hera pak, biasanya saya kasih nama di ojek online Hera cantik" ucap Hera bangga sekali pada diri sendiri. "Waduuh neng Hera cantik, ini harusnya saya bawa mas Hafiz bukan neng Hera, neng Hera ketuker ojeknya neng.."

Dalam hati Hera paling dalam, ia malu, malu, dan malu. Hari ini Hera begitu sial. Hera meminta antar pak ojek untuk pulang kerumahnya yang benar. Dengan menahan malu, Hera membayar uang lebih pada pak ojek sebagai bentuk terimakasih. Sesampainya di rumah, Hera hanya diam di kamar. Hera takut ketika ia melakukan aktifitas, ia akan mengalami kesialan yang selanjutnya. Hera memilih berdiam diri dikamar sambil berusaha melupakan kejadian memalukan hari ini.

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Sangat bagus sekali ceritanya. Ditunggu cerita - cerita selanjutnya ya kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih.., jangan lupa cek cerpen saya yang berjudul Rumah kak! <3

      Hapus
  3. sukaa banget sama ceritanya, semangat berkarya 🤝🏻✨

    BalasHapus
  4. Bagussss bgtt cerpennyaa!! Jujurr lucuuu bangett wkwk aku bacanya enjoy sekalii,ayoo buat lagi yang banyak 💯

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiii yaa, jadi semangat nih buat cerpen lagi💛

      Hapus
  5. ceritanya lucu, sukaa sama ceritanya nya🤭

    BalasHapus
  6. ih semangatttt, bagus bgt 💗

    BalasHapus
  7. Keren cerita nya,menghibur semangat terus..

    BalasHapus
  8. Semoga ngga kejadian lagi yaa Heraaa, aduuu maluu bangeeet

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hoki

Satu Teman Dua Sahabat Tiga Semburat