Yang Usai Harus Selesai

Malam kerap sekali terbayang, terhantui akan kesalahan apa yang pernah ku buat padamu. Pernahkah aku menyakitimu? Atau aku yang memang tak sependapat denganmu? Mengapa kita benar-benar harus selesai? Dan jajaran pertanyaan lain yang masih abu-abu untuk ku jawab sendiri. Memang apa permasalahan kita. Tiga tahun sudah aku lelah memikirkan, bagaimana bisa kita saling sepakat untuk meninggalkan disaat aku masih sering memikirkan bayang-bayangmu. 

Sore itu aku kembali mengunjungi sekolah kita. Tempat pertama kaki kita bertemu. Masa itu kita memang masih remaja. Terlalu muda untuk memahami cinta, terlalu muda untuk memahami saling ada, dan terlalu muda untuk mengerti semuanya. Aku tidak menyesali semua itu, aku yakin. Semua hal-hal bodoh yang kita lalui, semua canda tawa dan rasa yang kita lakukan menjadi sebuah kenangan manis dewasa ini. 

Aku masih mengingatmu. Dengan jelas di sore itu, ingatan tentangmu kembali saat aku duduk di bangku taman kesukaanmu. Mengingat indahnya helai rambutmu yang tertiup angin, dikala hangatnya sinar mentari sore memelukmu. Teringat senyuman lebarmu saat bercengkrama dengan teman kita yang begitu manis bagiku. Teringat jelas, suara tawamu dikala mengejek keburukan teman kita yang tak tahu malu. 

Aku tidak akan pernah menemukan hal itu kembali. Semua yang ada di dirimu kamu bawa pergi dari hidupku, termasuk perasaanmu. Semua rasa bahagia yang kau berikan padaku seakan ikut kamu tarik. Untung saja, aku tidak mudah lupa tentang perkataan manismu. Masih bisa ku ingat di setiap kata yang kamu ucap. Indah memang, tapi semua harus selesai.

Dahulu dapat bebas kukatakan aku merindukanmu, aku menyayangimu. Namun untuk sekarang, akan ku tahan demi kebahagiaanmu. Cukup kita bertemu dalam mimpi-mimpi indahku. Bahkan setiap kali malamku berbunga tentangmu, indah sudah hariku. Dalam mimpiku, kamu masih bersamaku. Kamu masih selalu menjahiliku, serasa itu memang kamu. Terkadang aku ingin terus tinggal dalam alam mimpiku, agar aku masih bisa terus bersamamu. 

Senja ini aku akan pulang kembali. Hanya ada satu jalan untuk menuju rumahku. Oh, jalanan ini. Dibawah pohon rindang dengan jalan becek dan aspal rusak. Kembali lagi teringat wajah panikmu ketika hujan turun. Helai rambut basah dan kacamata berembun tergambar jelas di pikiranku. Berlarian kita mencari pinggiran toko yang sudah tutup. Menghindari kerasnya runtuhan air dari langit, yang semakin lama semakin tidak bisa kita hindari. Benar, kala itu tidak sempat kita mengelak hujan. Berjalanlah kita terus sembari merasakan dinginnya rinai air. Seragam dan buku kita memang basah waktu itu, tapi lihat. Senyum dan canda tawa kita makin menjadi ketika menemukan genangan air yang terinjak keras. 

Sesampainya di rumah, aku sudah puas dengan kunjunganku. Sudah saatnya bagiku untuk tidak lagi memikirkan indah denganmu. Setelah waktu yang lama ini, aku memilih tidak lagi mengingatmu. Mengingatmu hanyalah kesia-siaan yang pernah kulakukan. Kamu tidak akan pernah mengerti, rasaku masih sedalam ini. Namun aku sadar, kita tidak akan pernah kembali. Bahkan untuk bertemu pun, aku tidak tahu akan berkata apa lagi. Usai sudah aku memikirkanmu dan usai pula perasaanku. Aku berhenti sampai disini. Kubiarkan rasa yang kamu beri menghancurkan hatiku. Detik ini juga, aku selesai denganmu. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hoki

Satu Teman Dua Sahabat Tiga Semburat